UNY Perkuat Mitigasi Gempa Berbasis Komunitas melalui Pelatihan Penilaian Kerentanan Bangunan di Gunungkidul

Gunungkidul, 18 April 2026, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan Pelatihan Penilaian Kerentanan Bangunan bagi Anggota Karangtaruna di Padukuhan Kepuh, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, pada Sabtu, 18 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi risiko gempa bumi melalui pengenalan penilaian awal kerentanan bangunan berbasis komunitas. 
Membekali Pemuda Mengenali Bangunan Rentan.
Pelatihan dilatarbelakangi kondisi Padukuhan Kepuh dan wilayah Pacarejo yang memiliki potensi terdampak guncangan gempa bumi, sementara kemampuan masyarakat dalam mengenali tanda-tanda kerentanan bangunan masih perlu diperkuat. Dalam kondisi tersebut, Karangtaruna mempunyai posisi strategis karena anggotanya berada dekat dengan masyarakat, mengenal karakteristik lingkungan, serta dapat menjadi penghubung antara warga, pemerintah setempat, relawan kebencanaan, dan tenaga teknis.
Melalui kegiatan ini, anggota Karangtaruna diperkenalkan dengan pendekatan Rapid Visual Screening (RVS) berbasis FEMA P-154, yaitu metode penapisan awal kerentanan bangunan terhadap gempa secara visual dan nondestruktif. Pendekatan ini digunakan untuk membantu menentukan bangunan yang perlu memperoleh perhatian dan pemeriksaan teknis lebih lanjut. 

“Melalui pelatihan ini, masyarakat, khususnya generasi muda Karangtaruna, diharapkan mempunyai kemampuan awal untuk mengenali indikator kerentanan bangunan. Mereka tidak diarahkan untuk menyatakan sebuah bangunan aman atau tidak aman, tetapi mampu melakukan skrining awal dan mengetahui kapan suatu bangunan perlu dirujuk kepada tenaga ahli untuk dievaluasi lebih lanjut,” Ujar Galih, selaku perwakilan KT Gunungkidul.

Dari Teori hingga Praktik Lapangan
Materi pelatihan mencakup pengenalan tipe struktur bangunan, prosedur pengisian formulir dan skoring RVS, serta identifikasi sejumlah indikator kerentanan seperti soft story, short column, ketidakteraturan denah dan vertikal, risiko pounding, kerusakan yang terlihat, dan potensi bahaya elemen nonstruktural. 
Pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi di kelas. Peserta juga diarahkan mengikuti simulasi menggunakan contoh foto bangunan dan praktik walk-around survey, yaitu pengamatan bangunan dari bagian luar secara sistematis. Dalam kegiatan lapangan, peserta belajar melakukan pencatatan kondisi bangunan, dokumentasi foto, pencatatan lokasi, identifikasi tipe struktur, pengenalan red flags, dan penyusunan kebutuhan tindak lanjut.
Data yang dikumpulkan selanjutnya dapat digunakan untuk menyusun basis data dan peta sederhana mengenai bangunan yang memerlukan prioritas evaluasi lebih lanjut. Metode tersebut memungkinkan masyarakat memiliki informasi awal yang lebih terstruktur sehingga sumber daya mitigasi dapat diarahkan kepada bangunan atau fasilitas yang paling membutuhkan perhatian.
Laporan pelaksanaan mencatat jumlah peserta mencapai 35 orang, melampaui target awal sebanyak 30 peserta. Peserta juga dilaporkan mampu melakukan pencatatan data RVS, sementara target skrining bangunan, paket instrumen RVS, peta atau daftar prioritas, serta rekomendasi bagi bangunan prioritas telah dilaksanakan. 

Pengabdian Perguruan Tinggi Harus Memberikan Dampak Nyata
Ketua Satuan Pengawasan Internal (SPI) UNY, Abdullah Taman, mengapresiasi kegiatan pengabdian yang menghubungkan kompetensi akademik perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.

“Pengabdian kepada masyarakat idealnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan peningkatan kapasitas yang dapat digunakan masyarakat secara berkelanjutan. Pelatihan penilaian kerentanan bangunan ini sangat relevan karena memberikan keterampilan praktis kepada Karangtaruna untuk berpartisipasi dalam mitigasi bencana di lingkungannya sendiri. Kehadiran perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manfaat yang nyata, terukur, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Abdullah Taman.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan pemuda menjadi modal penting bagi keberlanjutan program. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi dapat disebarluaskan kepada warga serta mendukung terbentuknya budaya sadar risiko dan keselamatan bangunan di tingkat padukuhan.

Mendorong Terbentuknya Kader Mitigasi di Tingkat Lokal
Salah satu arah keberlanjutan program adalah mendorong pembentukan Tim Relawan Penilai Kerentanan Bangunan berbasis Karangtaruna. Tim lokal tersebut diharapkan dapat membantu pembaruan data bangunan, dokumentasi, sosialisasi kepada masyarakat, serta melakukan koordinasi apabila ditemukan bangunan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh BPBD maupun tenaga ahli. 
Program ini sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, terutama peningkatan pendidikan dan kapasitas masyarakat, pembangunan permukiman yang lebih aman dan tangguh, serta penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah lokal, dan pemangku kepentingan kebencanaan.
Melalui pelatihan tersebut, Karangtaruna tidak semata-mata diposisikan sebagai peserta kegiatan, tetapi didorong menjadi aktor lokal dalam pengurangan risiko bencana. Dengan kemampuan mengenali indikasi awal kerentanan bangunan, masyarakat diharapkan semakin siap melakukan tindakan mitigasi sebelum gempa terjadi, sehingga potensi korban jiwa, kerusakan bangunan, dan kerugian sosial-ekonomi dapat diminimalkan.

Pewarta: Faqih Ma'arif