UNY Dorong Kesiapsiagaan Warga Kepuh melalui Pelatihan Mitigasi Gempa dan Penyusunan Jalur Evakuasi

Gunungkidul, 2 Mei 2026, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institutional Satuan Pengawas Internal (SPI) melaksanakan Pelatihan Mitigasi Gempa Bumi dan Penyusunan Jalur Evakuasi di Padukuhan Kepuh, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi.
Karang Taruna sebagai Penggerak Kesiapsiagaan

Pemilihan Padukuhan Kepuh sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada pentingnya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi. Laporan kegiatan mencatat bahwa pengetahuan masyarakat mengenai tindakan penyelamatan diri, evakuasi, serta kesiapsiagaan keluarga masih perlu diperkuat. Pada saat yang sama, Karang Taruna mempunyai posisi strategis karena memiliki kedekatan dengan masyarakat dan dapat menjadi penggerak kegiatan sosial serta pengurangan risiko bencana di tingkat lokal.
Pelatihan dirancang menggunakan pendekatan partisipatif dan aplikatif. Peserta memperoleh materi mengenai karakteristik gempa bumi, risiko bencana di lingkungan sekitar, tindakan yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa, hingga pemahaman mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul aman.
Tidak hanya melalui penyampaian materi, masyarakat juga dilibatkan dalam pemetaan partisipatif. Warga dan anggota Karang Taruna memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan, mengenali hambatan fisik yang dapat mengganggu proses evakuasi, serta berpartisipasi menentukan jalur utama, jalur alternatif, dan titik kumpul yang dinilai aman. Pendekatan ini dimaksudkan agar sistem evakuasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar dipahami dan dapat digunakan oleh masyarakat.
Dari Edukasi Menuju Peta Evakuasi
Program mengintegrasikan edukasi kebencanaan dengan penggunaan peta dasar atau citra wilayah, survei lapangan, media informasi, rambu evakuasi, serta simulasi. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi diarahkan menghasilkan perangkat kesiapsiagaan yang dapat dimanfaatkan setelah kegiatan selesai.
Laporan kemajuan mencatat keterlibatan 30 peserta dari unsur masyarakat dan Karang Taruna. Program juga menghasilkan atau menargetkan perangkat konkret berupa peta risiko dan evakuasi, sedikitnya dua jalur evakuasi, pembentukan kelompok kesiapsiagaan, serta panduan atau SOP mitigasi.
Penyusunan jalur evakuasi mempunyai arti penting karena pada saat terjadi gempa bumi, masyarakat membutuhkan keputusan dan tindakan yang cepat. Jalur yang sudah dikenali sebelumnya dapat membantu mengurangi kebingungan dan kepanikan, sedangkan titik kumpul memberikan lokasi tujuan yang jelas bagi warga setelah meninggalkan bangunan atau kawasan yang berpotensi berbahaya.

Ketua SPI UNY, Abdullah Taman, menilai kegiatan pengabdian seperti ini penting karena mempertemukan kompetensi akademik perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat harus mampu menghadirkan manfaat yang konkret dan berkelanjutan. Pelatihan mitigasi gempa dan penyusunan jalur evakuasi ini merupakan bentuk bagaimana pengetahuan dari perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi kemampuan praktis yang dapat digunakan masyarakat untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungannya ketika menghadapi bencana,” ujar Abdullah Taman.
Menurutnya, pelibatan Karang Taruna juga menjadi langkah penting dalam membangun keberlanjutan program.

“Karang Taruna memiliki energi, kedekatan dengan warga, dan kemampuan mobilisasi yang sangat baik. Apabila pemuda dibekali pengetahuan mitigasi, keterampilan membaca risiko, serta pemahaman mengenai jalur dan prosedur evakuasi, mereka dapat berkembang menjadi penggerak kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing. Inilah nilai penting pengabdian: masyarakat bukan hanya menjadi penerima program, tetapi menjadi pelaku utama dalam membangun ketangguhan,” tambahnya.

Menguatkan Ketangguhan Berbasis Komunitas
Pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu kekuatan program ini. Perguruan tinggi berperan dalam menyediakan pengetahuan dan fasilitasi teknis, pemerintah serta perangkat setempat memberikan dukungan kelembagaan, sedangkan masyarakat menjadi pengguna sekaligus pengelola hasil kegiatan.
Keberlanjutan kegiatan diarahkan melalui penyerahan peta dan panduan, penguatan kelompok siaga, integrasi kegiatan mitigasi ke dalam aktivitas Karang Taruna, pembaruan informasi jalur evakuasi secara berkala, serta pelaksanaan simulasi secara berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus mendukung pencapaian SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui peningkatan literasi kebencanaan, pemetaan partisipatif, dan penguatan peran pemuda, Padukuhan Kepuh diharapkan semakin siap menghadapi gempa bumi serta mampu membangun budaya sadar dan tangguh bencana dari tingkat komunitas.

Pewarta: Faqih Ma'arif